Monday, 29 April 2019
TAFSIR KIAI DAHLAN
Kiai Haji Ahmad Dahlan setiap subuh memberikan pengajaran pada murid-muridnya. Pada satu periode pengajarannya, berkali-kali KH Ahmad Dahlan mengajarkan tafsir surat Al-Ma’un, hingga berhari-hari tidak ditambah-tambah. Dengan kondisi seperti itu, ternyata mengusik hati salah seorang muridnya.
“Kiai, mengapa pelajarannya tidak ditambah-tambah?” tanya Soedja.
“Apa kamu sudah mengerti betul?” tanya beliau.
“Kita sudah hafal semua, Kiai.” Jawab Soedja.
“Kalau sudah hafal, apa sudah kamu kerjakan?” tanya beliau lagi.
“Apanya yang diamalkan? Bukankah surat Al-Maun sudah berulangkali kami baca sebagai rangkaian surat Fatihah, disaat kami shalat?” jawab Soedja’.
“Bukan itu yang saya maksudkan, Diamalkan artinya, dipraktekkan, dikerjakan. Rupanya saudara-saudara belum mengamalkannya. Oleh karena itu mulai hari ini, saudara-saudara pergi berkeliling mencari orang miskin. Kalau sudah dapat, bawa mereka pulang ke rumah masing-masing. Mandikan dengan sabun yang baik, beri mereka pakaian yang bersih, berilah makan dan minum, serta tempat tidur di rumahmu. Sekarang juga pengajian saya tutup. Dan saudara-saudara silahkan melakukan petunjuk-petunjuk saya tadi,” ujar Kiai Dahlan.
Berbagai versi tentang cerita ini telah menyebar, intinya Al-Qur’an itu setelah dibaca dan dipelajari harus diamalkan. Maka penafsiran model Kiai Dahlan, penulis sebut dengan tafsir amali. Mungkin ada yang menyebut tafsir sosial atau yang lain, tetapi ternyata metode serupa juga digunakan untuk ayat yang lain.
Dalam hal metode ini, Kiai Dahlan pernah menerangkan bagaimana cara mempelajari Al-Qur’an, yaitu ambillah satu, dua atau tiga ayat, dibaca dengan tartil dan tadabbur (dipikirkan). Pertama, bagaimana artinya? Kedua, bagaimanakah tafsir keterangannya? Ketiga, bagaimana maksudnya? Keempat, apakah ini larangan dan apakah kamu sudah meninggalkan larangan itu? Kelima, apakah ini perintah yang wajib dikerjakan? Sudahkah kita menjalankannya.
Oleh karena itu sudah menjadi watak Kiai ketika mengajarkan sesuatu , terutama Al Qur’an, tidak hanya berhenti pada tataran ilmu saja tetapi harus mencapai tataran amal. Karenanya, ia tak segan mengajarkan suatu ayat sampai berbulan-bulan meski sebetulnya hanya cukup beberapa hari selesai sebelum ayat tersebut diamalkan.
Baginya Islam memang harus diamalkan dan tidak hanya dimengerti saja. Dalam hal amalan agama ini Kiai Dahlan berkata: “Aku mengerti barang yang haq dan barang bathil seperti aku mengerti agama Nasrani/Kristen dan belajar agama Nasrani dan mengerti agama Nasrani. Tetapi apabila aku tidak mengerjakan agama Nasrani aku bukan orang Nasrani. Demikian juga umpamanya aku mengerti cara-cara mencuri, menipu, menindas tetapi aku tidak menjalankan mencuri, menipu atau menindas maka aku bukan pencuri, penipu dan penindas. Demikian juga aku mengenal agama Islam, mengerti amal shalih, tetapi aku tidak mengerjakan agama Islam dan amal shalih itu, aku tetap bukan orang Islam dan tetap bukan orang shalih”.
Inilah sebetulnya tafsir awal yang dilakukan Muhammadiyah oleh pendirinya yang mampu menghasilkan amal usaha yang kini masih terjaga. Tetapi sayang, metode tafsirnya sudah hampir terlupakan.
Sumber: Suara Muhammadiyah
MATAN KEYAKINAN CITA-CITA MUHAMMADIYAH
1. Muhammadiyah adalah Gerakan Islam dan Dakwah Amar Ma'ruf Nahi Munkar, beraqidah Islam dan bersumber pada Al-Qur'an dan Sunnah, bercita-cita dan bekerja untuk terwujudnya masyarakat utama, adil, makmur yang diridhai Allah SWT, untuk malaksanakan fungsi dan misi manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.
2. Muhammdiyah berkeyakinan bahwa Islam adalah Agama Allah yang diwahyukan kepada Rasul-Nya, sejak Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan seterusnya sampai kepada Nabi penutup Muhammad SAW, sebagai hidayah dan rahmat Allah kepada umat manusia sepanjang masa, dan menjamin kesejahteraan hidup materil dan spritual, duniawi dan ukhrawi.
3. Muhammadiyah dalam mengamalkan Islam berdasarkan:
a. Al-Qur'an: Kitab Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW;
b. Sunnah Rasul: Penjelasan dan palaksanaan ajaran-ajaran Al-Qur'an yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW dengan menggunakan akal fikiran sesuai dengan jiwa ajaran Islam.
4. Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran Islam yang meliputi bidang-bidang:
a. 'Aqidah
Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya aqidah Islam yang murni, bersih dari gejala-gejala kemusyrikan, bid'ah dan khufarat, tanpa mengabaikan prinsip toleransi menurut ajaran Islam.
b. Akhlak
Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya nilai-nilai akhlak mulia dengan berpedoman kepada ajaran-ajaran Al-Qur'an dan Sunnah rasul, tidak bersendi kepada nilai-nilai ciptaan manusia
c. Ibadah
Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya ibadah yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW, tanpa tambahan dan perubahan dari manusia.
d. Muamalah Duniawiyah
Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya mu'amalat duniawiyah (pengolahan dunia dan pembinaan masyarakat) dengan berdasarkan ajaran Agama serta menjadi semua kegiatan dalam bidang ini sebagai ibadah kepada Allah SWT.
5. Muhammadiyah mengajak segenap lapisan bangsa Indonesia yang telah mendapat karunia Allah berupa tanah air yang mempunyai sumber-sumber kekayaan, kemerdekaan bangsa dan Negara Republik Indonesia yang berdasar pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, untuk berusaha bersama-sama menjadikan suatu negara yang adil dan makmur dan diridhoi Allah SWT:
"BALDATUN THAYYIBATUB WA ROBBUN GHOFUR"
(Keputusan Tanwir Tahun 1969 di Ponorogo)
Catatan:
Rumusan Matan tersebut telah mendapat perubahan dan perbaikan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah:
1. Atas kuasa Tanwir tahun 1970 di Yogyakarta;
2. Disesuaikan dengan Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke 41 di Surakarta.
Sumber: muhammadiyah.id
Monday, 15 April 2019
PERNYATAAN PP MUHAMMADIYAH TENTANG PEMILIHAN UMUM 17 APRIL 2019
PERNYATAAN PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH
Nomor: 130/PER/I.0/M/2019
TENTANG PEMILIHAN UMUM 17 APRIL 2019
Bismillahirrahmanirrahim
Pemilihan Umum di Indonesia akan diselenggarakan pada 17 April 2019 untuk pemilihan Presiden-Wakil Presiden, anggota DPD, DPR, DPRD Provinsi dan Kabupaten-Kota. Pada era reformasi telah berlangsung empatkali Pemilihan Umum (Pemilu) yang berlangsung demokratis dan prosesnya semakin terbuka dan sampai batas tertentu cenderung sangat bebas atau liberal. Pada era Orde Baru telah dilaksanakan enam kali Pemilu, sedangkan pada masa Orde Lama diselenggarakan Pemilu pertama tahun 1955 yang berlangsung secara demokratis dalam sejarah politik Indonesia.
Belajar dari pengalaman Pemilu yang panjang dan sarat dinamika pada tiga era Orde Lama, Orde Baru, dan Reformasi itu maka seyogyanya semua pihak di negeri ini benar-benar dapat menunjukkan kearifan, kedewasaan, kematangan, dan tanggungjawab tinggi dalam menyikapi dan melaksanakan Pemilu 2019 sebagai proses politik demokratis yang cerdas, berkeadaban, dan berkemajuan disertai dijiwai kenegarawanan yang utama.
Sehubungan dengan itu Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan pernyataan sebagai berikut:
- Mendukung sepenuhnya pelaksanaan Pemilihan Umum 17 April 2019 yang benar-benar terselenggara secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil yang menjadi komitmen seluruh komponen dan kekuatan nasional. Penyelenggara dan pengawas Pemilu, partai politik, pasangan calon presiden-wakil presiden, jajaran pemerintah, aparatur keamanan, media massa, dan seluruh masyarakat agar dapat melakukan ikhtiar yang terbaik sesuai peran dan fungsi masing-masing, dan saling bekerjasama untuk menyukseskan pemilu. Harus dipastikan pelaksanaan Pemilu dari awal sampai akhir berlangsung aman, damai, tertib, lancar, dan terselenggara dengan sebaik-baiknya tanpa kecurangan dan penyimpangan.
- Kepada seluruh pihak hendaknya menggunakan hari-hari menjelang dan sesudah pemilihan sebagai peluang terbaik untuk secara bersama-sama menciptakan suasana yang betul-betul tenang, aman, damai, dan baik. Manfaatkan waktu yang baik tersebut sebagai momentum menumbuhkan spiritualitas kolektif untuk merekat ikatan persaudaraan dan menurunkan tensi ketegangan politik sehingga pada hari pelaksanaan Pemilu benar-benar kondusif. Semua pihak harus menaati ketentuan yang berlaku serta tidak melakukan pergerakan atau aktivitas politik apapun yang dapat mengganggu ketenangan serta mencederai proses Pemilu. Media sosial dan media massa hendaknya digunakan untuk ikut menciptakan suasana yang kondusif dan harmoni serta terhindar dari penyebaran berita atau informasi hoax, perseteruan, dan hal-hal yang dapat memanaskan situasi pelaksanaan Pemilu.
- Kepada Komisi Pemilihan Umum dan Badan Pengawas Pemiludan institusi terkaitagar bekerja benar-benar profesional, netral, terpercaya, jujur, dan adil untuk memastikan setiap warga negara yang memiliki hak pilih dapat memilih secara bebas, aman, rahasia, dan terpenuhi hak politiknya. Penyelenggaraan Pemilu harus berjalan sesuai perundang-undangan yang berlaku, sekaligus dapat menjawab kritik sebagian masyarakat yang meragukan kompetensi dan independensi melalui penyelenggaraan yang seksama dan dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan konstitusional.
- Aparatur negara hendaknya menjalankan tugas dan kewajiban sebaik-baiknya dalam mengamankan jalannya Pemilu. Pastikan tidak terjadi penyalahgunaan hak, wewenang, dan fasilitas negara, sekaligus memberikan rasa aman kepada seluruh warga negara untuk bebas dari segala bentuk gangguandan kecurangan sehingga Pemilu berlangsung demokratis, aman, damai, gembira, dan sesuai jaminan konstitusi.
- Seluruh warga negara yang memiliki hak pilih agar menggunakan hak politiknya dengan penuh tanggung jawab, cerdas, menjaga persatuan, menjunjung tinggi moralitas, toleransi, dan kesantunan. Jauhi politik uang dan segala transaksi yang dilarang oleh agama, moralitas, dan hukum yang berlaku. Semua warga negara dan para pihak baik dalam masa pemilihan maupun sesudahnya hendaknya bersama-sama menciptakan ketertiban dan kedamaian. Hendaknya menjauhi segala bentuk pernyataan dan sikap yang bernuansa hasutan, perselisihan, kegaduhan, dan tindakan yang merugikan kehidupan berbangsa dan bernegara.
- Pemilihan Umum niscaya diwujudkan sebagai proses demokrasi yang paling memungkinkan untuk terpilihnya pemimpin dan kepemimpinan eksekutif dan legislatif secara obyektif dengan kepercayaan bahwa yang terpilih adalah kader-kader bangsa yang terbaik. Kepada semua pihak agar dapat menerima hasil-hasil pemilihan umum dengan sabar, jiwa besar, tenggang rasa, saling menghormati, serta dengan senantiasa bertawakal kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa. Siapapun yang memperoleh mandat rakyat hendaknya bersikap rendah hati, menjauhi euforia dan keangkuhan, serta menjadikan kepercayaan rakyat itu sebagai amanat dan tanggungjawab yang tinggi untuk kemajuan Indonesia. Bagi yang belum memperoleh mandat rakyat terimalah dengan lapang hati dan jiwa kenegarawanan yang tinggi. Selaku kaum beriman semua amanat maupun hasil ikhtiar dalam politik maupun kehidupan pada umumnya harus disikapi dengan ketaqwaan, kesyukuran, kesabaran, dan tawakal kepada Allah Yang Maha Kuasa yang mengandung hikmah dan ibrah penuh makna.
- Apabila terdapat masalah atau persengketaan Pemilu maka semua pihak dapat menyelesaikan persoalan secara konstitusional sesuai perundang-undangan yang berlaku. Hendaknya menghindari sejauh mungkin usaha-usaha mobilisasi massa, provokasi, dan aksi-aksi politik yang dapat menimbulkan ketegangan, konflik horizontal maupun vertikal, dan anarki yang merugikan kehidupan bersama. Indonesia yang telah diperjuangkan oleh para patriot dan pendiri bangsa dengan segala pengorbanan jiwa-raga harus dijaga bersama dari segala kondisi dan tindakan yang merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.
- Khusus kepada warga Persyarikatan Muhammadiyah agar menggunakan hak pilihnya serta berpartisipasi aktif dalam proses dan pelaksanaan Pemilu 17 April 2019 dengan menjadikan diri dan organisasi sebagai teladan terbaik atau uswah hasanah dalam berdemokrasi, memegang teguh Kepribadian dan Khittah, memelihara ukhuwah dan marwah Persyarikatan, serta menjunjungtinggi akhlak mulia. Hendaknya bersama komponen masyarakat lainnya menegakkan ketertiban sosial serta menjadi pemersatu umat dan bangsa. Bersamaan dengan itu semakin giat dalam menjalankan segala usaha dakwah dan tajdid yang menjadi misi utama gerakan Muhammadiyah untuk tersebarluasnya risalah Islam sebagai rahmatan lil’alamin serta terwujudnya Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur.
Sumber: muhammadiyah.di
Wednesday, 10 April 2019
SERAGAM DAN ATRIBUT HW
Pakain Seragam adalah pakaian yang dipakain oleh semua anggota Pandu HW yang bentuk, corak, warna, dan tata cara pemakaiannya seragam sesuai dengan ketentuan yang dibuat oleh Kwartir Pusat Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan.
Fungsi pakaian seragam adalah sebagai berikut :
1. Memperkuat identitas
2. Membangun jiwa korsa
3. Mengandung daya tarik
4. Memotivasi pengendalian disiplin
5. Menjalin kebersamaan
6. Mencerminkan kerapi(h)an
7. Menjadi Kenang-kenangan.
Kriteria pakaian seragam adalah sebagai berikut :
1. Memiliki estetika
2. Menarik untuk mayoritas anggota
3. Sesuai untuk kegiatan di lapangan
4. Pengadaannya mudah
5. Sederhana tetapi praktis
6. Paduan warna mengandung makna
7. Memenuhi norma agama dan masyarakat
8.Mencirikan jati diri organisasi, dan tidak atau belum digunakan oleh organisasi lain.
Pakaian seragam utama dan tambahan
Utama
a. Tutup kepala Putra baret/Muts.
b. Jilbab warna coklat kheki sesuai baju (seragam HW) BUKAN BIRU, PUTIH, KUNING, HIJAU
c. Setangan leher
d. Kemeja / hem
e. Celana / rok
f. Kaos kaki
g. Sepatu
h. Ikat pinggang
Tambahan
a. Celana pendek (pria)
b. T-Shirt
Atribut adalah tanda-tanda yang dikenakan/dipakai oleh anggota Pandu HW untuk menunjukkan jabatan, jenjang, tingkat kecakapan, satuan, dan daerah.
Fungsi
Atribut berfungsi untuk :
1. Memudahkan mengenal identitas
2. Menandakan status dan posisi
3. Menunjukkan prestasi kerja
4. Menimbulkan kebanggaan
5. Manandakan tingkatan
6. Memupuk rasa tanggung jawab
7. Menjadi kenang-kenangan
Kriteria atribut adalah sebagai berikut :
1. a. Memenuhi estetika
2. b. Anggun dan menunjang wibawa
3. c. Sederhana, mudah diabuat, dan murah
4. d. Simbol-simbolnya bermakna
5. e. Belum dimiliki organisasi lain
Jenis
1. Utama
a. Tanda identitas Pandu HW
b. Tanda satuan
c. Tanda kepangkatan
d. Tanda tingkat
e. Tanda kwartir dan qabilah
2. Tambahan
a. Nama Pandu HW
b. Tanda kenang-kenangan pertemuan
c. Lain-lain sesuai / tidak bertentangan
Sumber lengkap dapat dilihat di Buku Pedoman Seragam Atribut HW yang telah dikeluarkan oleh Kwartir Pusat, dan AD ART HW tahun 2016
PERAN KEPANDUAN HIZBUL WATHAN DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER BANGSA
Allah menciptakan manusia dengan maksud dan tujuan tertentu (Q.S. 23: 115). Manusia diciptakan Allah dari bumi (tanah dan air) dan Allah mengamanati manusia supaya memakmurkannya (Q.S. 11: 61). Manusia diberi hak untuk menguasai bumi dan berkewajiban memakmurkannya. Memakmurkan artinya membuat (menyebabkan) bumi ini menjadi makmur, yakni banyak hasilnya, sejahtera penduduknya, serta berkecukupan. Dengan kata lain manusia harus berbuat kebajikan dan dilarang membuat kerusakan di bumi ini (Q.S 28: 77).
Bumi ini pewarisnya adalah manusia yang shalih (Q.S. 21: 105). Manusia yang shalih adalah yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya , berjuang dengan sungguh-sungguh pada jalan yang telah ditentukan Allah dengan harta dan jiwanya (Q.S.61: 11), disertai niat yang ikhlas (Q.S. 98: 5). Perjuangannya ditujukan untuk memperoleh kurnia dan ridla Allah (Q.S. 48: 29).
Manusia yang shalih dapat dibuktikan dari sikap, ucapan dan perbuatannya bila diseru oleh Allah, ia sambut seruan itu (Q.S. 8: 24), ucapan dan perbuatannya “ sami’na wa atha’na” (Q.S. 24:51), istiqamah dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, tiada yang ia takuti kecuali Allah, serta bertaqwa kepada Allah (Q.S. 24: 52). Mereka itulah yang akan memperoleh kesuksesan dan kebahagiaan
1. Apa dan Mengapa HW Didirikan?
HW (Hizbul Wathan) adalah nama kepanduan dalam Muhammadiyah. Hizbul Wathan artinya “Pembela Tanah Air”. HW didirikan tahun 1918 oleh K.H.Ahnad Dahlan,[i]Sebelumnya telah berdiri Nederlands Indisce Padvinders Vereniging (NIPV) tahun 1914, cabang dari Nederlands Padvinders Organisastie (NPO), dan Javanse Padvinders Organisatie (JPO) tahun 1916 yang diprakarsai oleh S.P. Mangkunegara VII di Surakarta.
K.H. Ahmad Dahlan adalah seorang ulama, muballigh, dan pendidik yang memiliki orientasi pemikiran yang jauh ke depan. Beliau memiliki perhatian yang besar terhadap generasi muda dan masa depan masyarakatnya/bangsanya (Q.S. 49: 18). Fikiran dan tindakannya sangat strategis. Beliau tertarik dengan kepanduan yang telah ada. Beliau mengambil “metodenya” untuk mendidik anak-anak muda Muhammadiyah di luar sekolah.
Melalui HW diharapkan generasi muda Muhammadiyah sanggup serta mampu menghamba kepada Allah, berbuat kebajikan untuk nusa dan bangsanya. Mereka harus dibekali dengan keyakinan tauhid, akhlak mulia serta ilmu pengetahuan dan teknologi.
Fungsi HW sebagai salah satu Organsasi Otonom Muhammadiyah adalah:
- Pembentkan dan pembinaan kader Persyarikatan
- Pembinaan Warga Muhammadiyah dan pembimbingan kelompok masyarakat tertentu dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.
- Pengembangan Persyarikatan
(Kaidah Ortom Bab III Pasal 5)
- Secara khusus HW berfungsi sebagai salah satu wadah pekaderan yang efektif (SK PPM no.92/1999 ttg. Kebangkitan Kembali Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan dalam Muhammadiyah), yaitu pembentukan kader Ideologis praktis
Adapun tugas ortom adalah:
- Membentuk dan membina kader Persyarikatan.
- Membina warga Muhammadiyah dan membimbing kelompok mashyarakat tertentu dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.
- Mengembangkan Persyarikatan.
(Kaidah Ortom Bab III Pasal 6)
Adapun fungsi lain HW adalah:
- Bentuk/model pendidkan non formal yang efektif dalam pembinaan kader bangsa.
- Lahan persemaian jiwa semangat bela negara
Tugasnya adalah:
- Menyiapkan dan membina anak, remaja, dan pemuda dengan sistem kepanduan.
- Membina rohani dan jasmani anak, remaja , dan pemuda dengan ajaran Islam yang bersumberkan Al-Quran dan As-Sunnah, serta pembaharuan (tajdid) sesuai dengan pekembangan zaman.
Kontribusi HW
- Anak-anak, remaja, dan pemuda banyak yang tertarik dan menjadi anggota HW. Mereka merasakan banyak mendapat maslahat, manfaat, dan keuntungan menjadi Pandu HW. Tidak sedikit anggota HW yang percaya diri dan memliki kepribadian yang baik, serta memjadi warga masyarakat yang berguna.
- Tidak sedikit yang lahir dari HW orang-orang yang tidak hanya menjadi tokoh/pimpinan Muhammadiyah. Tidak sedikit yang menjadi tokoh nasional, pimpinan TNI, POLRI, seperti: Jenderal Besar Sudirman (Bapak TNI), Sudirman Brojonegoro (Mantan Pangdam Brawijaya), Basofi Sudirman (Mantan Gubernur Jawa Timur), Sarbini (Mantan Pangdam Diponegoro/Mentreri Veteran/Ketua Kwarnas Pramuka) Jenderal Besar Suharto (Mantan Presiden RI), Daryatmo (Mantan Ketua MPR), Budiyono (Mantan Wakil Presiden RI), dan Rofiq J.A.
- Melancarkan brdirinya Gerakan Pramuka.
Problematika Hidup
Kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memenuhi dan melayani keperluan hidup, ternyata tidak sedikit mendatangkan masalah baru dalam kehidupan, terutama di kalangan anak-anak, remaja dan pemuda. Tidak sedkit generasi muda yang terpeleset dan jatuh ke jurang kesengsaraan. Tidak kurang yang tidak dapat menangkap arti hidup yang sebenarnya, tidak tahu jalan hidup, dan tujuan hidup (Q.S. 23: 115).
Akibat dari jiwa kosong dari ajaran Tauhid, ahklak mulia tidak menghiasi diri, ibadah tidak menentu, maka terjadilah berbagai hal yang membawa kepada kehancuran bangsa dan negara serta tatanan kehidupan di dunia ini. Indikasinya timbul kemusyrikan baru, kebiadaban, kefasikan, kezaliman, berbagai kejahatan, dan sebagainya.
Mari kita menyimak unggkapan seorang penyair ( Syauqi Bey) mengatakan:
انما الامم الاخلاق ما بقيت فان هم ذهبت اخلاقهم ذهبوا i
Artinya: Sesungguhnya bangsa itu jaya selama mereka masih mempunyai akhlak (yang mulia). Maka apabila akhlak (yang mulia) itu telah hilang, maka hancurlah bangsa itu.
Buya HAMKA menyatakan:
Tegak rumah karena sendi
Runtuh sendi rumah binasa
Sendi bangsa adalah budi;
Runtuh budi runtuhlah bangsa
Hal-hal yang negatif di kalangan generasi muda khususnya, tentu tak boleh dibiarkan. HW dibentuk untuk mengajak kepada kebajikan, menyuruh dengan baik, dan mencegah kemunkaran (Q.S. 3:104) serta berusaha menjadi yang terbaik (Q.S. 3: 110). HW memiliki sistem (manhaj) yang telah pernah dibuktikan dan akan terus diperjuangkan, serta dikembangkan dalam kehidupan beragama , berbangsa, dan bernegara. Sistem pendidikan yang dimiliki oleh HW itu harus disambut, dikaji, direnungkan, diimplementasikan, dikembangkan oleh kalangan muda khususnya untuk membentuk bangsa yang berkarakter, agar menjadi orang shaleh yang mampu mewarisi dunia ini. Bangsa yang berkarakter mulia akan mampu tegak di bumi ini, akan diperhitungkan meskipun jumlahnya sedikit, dengan syarat: hidupnya beasas tauhid, akhlaknya mulia (Q.S. 2L 249)
Sistem (Manhaj) HW dalam Pembentuan Karakter Bangsa
Sistem HW dalam pembentukan karakter bangsa berupa Prinsif Dasar dan Metode (kaifiat/cara)
- Prinsip Dasar
- Tauhid
- Akhlakulkarimah
- Kode Kehormatan (Janji dan Undang-Undang Pndu)
- Metode
- Perberdayaan peserta didik lewat sistem beregu ( kelompok kecil)
- Kegiatan kebanyakan di alam terbuka
- Sifat menarik, menyenangkan, dan menantang
- Ada kenaikan tingkat dan tanda kecakapan.
- Satuan dan kegiatan terpisah antara putra dan putri.
Peran HW
Peran HW tertuang dalam Mars HW dan Hymne HW, yang intinya sebagai berikut:
Mars bait I
- Memegang amanah
- Menjunjung agama
- Berteguh hati sebagai baja
- Menjalankan kewajiban dengan sopan serta perwira
- Hidup bermasyarakat
- Sedikit bicara banyak bekerja
Mars bait II
- Selalu siap sedia berbuat amal dan jasa dengan ikhlas dan gembira
- Pandu perwira Islam, putra Indonesia
- Setia dan dapat dipercaya dalam semua janji dan bakti untuk agama dan bangsa
- Cepat dan tangkas tingkah terjangnya
- Sedikit bicara banyak bekerja
Mars bait III
- Pandu putra harapan pendukung cita gerak Islam
- Selalu siap bekerja
- Berakhlak mulia, taqwa, dan taat beribadah
- Teguh patuh setia agama
- Hemat, cermat, cakap, dan jujur
- Ikhlas dari sanjung puja
- Tabah, giat, dan bersemangat
Hymne HW Panduku
- Pembela tanah air
- Kader pemimpin bangsa
- Semboyannya “Fastabiqul Khairat”
- Semangat pantang surut membina insan yang berakhlak mulia
- Beriman teguh dan bertakwa
- Berbakti demi nusa dan bangsa, untuk kesejahteraan masyarakat
- Janji dipenuhi
- Quran dan Hadis pedoman hidupnya
Khatimah
- Pemilihan nama HW bagi Kepanduan Muhammadiyah sangat tepat, dengan tugas melaksanakan salah satu usaha Muhammadiyah untukencapai maksud dan tujuannya.
- HW telah menghasilkan kemaslahatan dan kemanfaatan bagi bagsanya dan negaranya.
- HW memiliki model Pendidikan bagi generasi muda bangsa, tetapi karena non aktif selama lebih kurang 39 tahun, maka banyak anak bangsa yang masing merasa asing dengan HW
- Sekalipun pernah dihambat oleh penjajah dan pemerintah orde lama, tetapi karena jiwanya dicelup dengan celupan buatan Allah dan hidupnya dituntun (berpedoman) oleh Al-Quran dan As-Sunnah Rasulullah, maka bila ada celah-celah/peluang HW bangkit dan bergerak lagi ( falsafah air, pisang, atau biji petai cina yang dikubur d tembok)
- Bersama HW insya Allah terwujud kader bangsa yang amanah dan bertanggung jawab.
Daftar Pustaka
- Affandi, Muhammad, 1999, PERAN DAN FUNGSI HIZBUl WATHAN DI MASA DEPAN, Panitia Sarasehan dan Lokakarya Rehabiitasi Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Yogyakarta
- Departemen Agama RI, 1971, Al-Quran dan Terjemahnya, Jakarta
- Djatnika, Rachmatr, 1992, SISTEM ETHIKA ISLAM, Pustaka Panjmas, Jakarta
- HAMKA, 1956, LEMBAGA BUDI (DALAM MUTIARA FILSAFAT), Wjaya, Jakarta
- Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, 1987, PATAH TUMBUH HILANG BERGANTI, jakarta
- Ma’arif, Syafi’I, A, 1999, HIZBUl WATHAN DALAM PERSPEKTIF SEJARAH, Panitia Sarasehan dan Lokakarya Rehabilitasi Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Yogyakarta
- Najib, Hilman, 1999, PERAN DAN FUNGSI HIZBUl WATHAN DI MASA DEPAN, Panitia Sarasehan dan Lokakarya Rehabilitasi Gerakan Kepanduan Hiizbul Wathan Pimpinan Pusat Muhyammadiyah, Yogyakarra
- PP Muhammadiyah, Majlis Hizbul Wathan, 1961, Tuntunan Hizbul Wathan (Kenang-Kenangan), Yoigyakarta
- Sumitro, Ahmad, 1999, VISI DAN MISSI GTERAKAN KEPANDUAN DALAM PEMBANGUNAN BANGSA, Panitia Sarasehan dan Lokakarya Rehabilitasi Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Pimpinan Pusa Muhammadiyah, Yogyakarta
- Sunarto, 1999, PERANAN GERAKAN KEPANDUAN DALAM MEMBENTUK KEPRIBADIAN ANAK-ANAK, REMAJA DAN PEMUDA, Panitia Sarasehan dan Lokakarya Rehabiitasi Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Yogyakarta.
Sumber: Uun Harun Syamsuddin
Monday, 8 April 2019
SUDIRMAN; GURU YANG MENJADI JENDERAL BESAR
”Kuatkan persatuan kita. Pegang teguh pendirian kita. Berjuang terus di bawah satu komando, mewujudkan dan mempertahankan kedaulatan serta kemerdekaan Negara Republik Indonesia, supaya kita dapat syukur dan gembira yang abadi.
Sekali Merdeka, Tetap Merdeka! Sekali Diproklamasikan, Tetap Kita Pertahankan.”
Demikian bunyi amanat Jenderal Sudirman pada kegiatan ta’aruf keluarga besar Muhammadiyah yang naskah lengkapnya dimuat di majalah Suara Muhammadiyah bulan Juli 1946. Dari ujung amanat itu terasa sekali getar semangat perjuangannya yang sampai hari ini mampu menyentuh dan menggetarkan jiwa kita.
Waktu ibukota Republik Indonesia berada di Yogyakarta dan Jenderal Sudirman menjadi Panglima Besar, keutuhan sesama tentara nasional Indonesia terjaga. Demikian juga keutuhan antara pejabat militer dan sipil, keutuhan rakyat dengan pemerintah. Berada di bawah ancaman dan tekanan serdadu Belanda yang ingin coba-coba menjajah kembali, Jenderal Sudirman mampu menjaga keutuhan bangsa Indonesia. Caranya sederhana, dengan memberikan keteladanan. Misalnya dalam menjaga sikapnya, penuh disiplin teguh dalam pendirian, shalih dalam beribadah dan santun serta lembut dalam berbicara kepada siapa pun. Tetapi Pak Dirman tegas dalam memutuskan dan memerintahkan anak buahnya untuk maju menyerbu musuh.
Para sesepuh kampung Kauman Yogyakarta yang sering menyaksikan Jenderal Sudirman ikut dalam Pengajian Malam Selasa di Gedung ‘Aisyiyah Kauman mengakui hal itu. Jenderal Sudirman terasa memiliki wibawa yang kuat. Ia sangat menghormati tokoh Muhammadiyah yang hadir di pengajian itu. Selalu patuh menjalankan keputusan Persyarikatan. Posisi sebagai Panglima Besar pun mau ia sandang setelah mendapat persetujuan dari Pimpinan Muhammadiyah. Sudirman pun menjalankan perannya sebagai panglima dengan kesadaran sedang menjalankan perintah agama dan memenuhi kebutuhan bangsanya. Agama memerintahkannya berjihad melawan penjajah, maka ia pun bergerak gesit melawan penjajah.
Sebagai guru Muhammadiyah dan menjadi Kepala Sekolah HIS Muhammadiyah Cilacap ia mampu menyerap spirit KHA Dahlan. Ia mengembangkan sekolah itu dan menghargai para guru dan koleganya. Sebagai aktivis Muhammadiyah di bagian Pemuda ia pun menjalankan kepemimpinannya dengan baik. Sebagai kader Muhammadiyah yang dididik di Pandu Hizbul Wathan (yang memberikan kepadanya bekal soft militerisme) dan kader bangsa yang dididik di Bogor sebagai tentara PETA (yang memberikannya bekal hard militerisme) ia mampu memadukan dua bekal itu ketika memimpin Tentara Nasional Indonesia yang semula bernama BKR dan TKR itu. Tentara Nasional Indonesia pun tumbuh menjadi tentara pejuang yang ditakuti Inggris dan Belanda.
Ketika berpamitan dengan pimpinan dan warga Muhammadiyah Cilacap menjelang keberangkatannya menempuh pendidikan militer di Bogor ia berpesan agar Muhammadiyah jangan ditelantarkan. Harus tetap hidup di Cilacap. “Saya akan mempunyai tugas baru, saya akan menjadi serdadu dan akan berangkat latihan ke Bogor. Sedulur-sedulur tulung dienget-enget Muhammadiyah,” katanya mengharap agar Muhammadiyah jangan dilupakan.
Keberangkatannya ke Bogor itu merupakan awal perjuangannya di kancah militer. Mempertahankan Indonesia. Ia meninggalkan Cilacap, dari kader Muhammadiyah menjadi kader bangsa. Sebab sejak itu ia tidak kembali ke Cilacap. Ia bertugas di ibukota RI yang waktu itu di Yogyakarta, dengan masih menjaga silaturahmi dengan tokoh dan warga Muhammadiyah. Ia memimpin perang gerilya dari pelosok Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur ketika para pemimpin sipil pilih menyerah kepada Belanda. Perjuangannya lewat perang gerilya berhasil. Belanda pun dapat diusir. Ia kembali masuk ke kota dengan pakaian sederhana, dan tetap menghormati para pemimpin bangsa yang dibebaskan Belanda, untuk menjaga keutuhan Indonesia. Ketika Jenderal Sudirman berpelukan dengan Bung Karno, banyak orang yang menitikkan air mata.
Sumber: SuaraMuhammaduyah
Sumber: SuaraMuhammaduyah
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1440 H/2019 M
Marhaban yaa Ramadhan. Setiap menjelang bulan suci Ramadhan, Suara Muhammadiyah menyediakan jadwal imsakiyah untuk seluruh kota-kota besar di Indonesia. Tahun ini jadwal imsakiyah dihisab dan disusun oleh Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ustad Oman Fathurohman SW.
Berbeda dengan metode hisab lembaga lain yang biasanya tidak memperhitungkan tinggi daerah, metode hisab yang dipakai Muhammadiyah di samping memperhitungkan posisi lintang dan bujur daerah, juga memperhitungkan tinggi daerah yang dihisab. Sehingga, tingkat keakuratannya dianggap paling tepat.
Bagi segenap umat muslim yang ingin mendapatkan jadwal imsakiyah Ramadhan tahun 1440 H ini dapat mengunduhnya melalui link di bawah ini:
Sumber: SuaraMuhammadiyah


















